•  Penjabat Bupati Tana Toraja H. Jufri Rahman, meluncurkan penyaluran dana Program Keluarga Harapan. Launching ditandai penyerahan dana PKH dari Kementerian Sosial RI kepada KSM (keluarga sangat miskin), Jumat (12/02)
  •  Pencairan puluhan triliun dana desa pada April 2015 hampir tanpa persiapan, proses pelaksanaan PNPM-MPd yang menyisakan dana 1,3 Triliun di 54 ribu desa juga berjalan tanpa pendampingan..
  •  Uforia pengesahan UU Desa menggema di seantero negeri. Penetapan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa ini menandai era baru dan meneguhkan eksistensi desa dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengaturan desa dalam undang-undang ini merupakan upaya untuk melindungi dan memberdayakan desa agar semakin kuat, maju mandiri dan sejahtera. Untuk mencapai hal tersebut, beberapa hak dan wewenang diberikan kepada.........
  • Semenjak masuknya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri Pedesaan (PNPM-MP) ke Lembang/Kelurahan, pembangunan sarana fisik dan infrastruktur Lembang/Kelurahan kian hari kian menampilkan perubahan. Bangunan sekolah, jalan rabat, irigasi, jembatan, posyandu, tembok penahan tanah dan serangkain program lainnya seringkali membantu membantu masyarakat keluar dari masalah. Hanya saja apapun program yang hendak diterapkan selalu perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas para pelaksana progam.
  • Peningkatan kapasitas merupakan salah satu agenda penting dan strategis dalam proses pemberdayaan masyarakat. Hakekat pemberdayaan masyarakat adalah upaya sistematis untuk meningkatkan dan mengembangkan kesadaran kritis
  • Guna terpenuhinya prinsip PNPM Mandiri Perdesaan yakni DOUM (Dari, Oleh dan Untuk Masyarakat) dan agar berkembang dan terlestarikannya Unit Pengelola Kegiatan yang mengelola kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan termasuk Simpan Pinjam Kelompok (SPP) dan Usaha Ekonomi Produktif (UEP), maka pada hari Jumat, 23 Agustus 2013, UPK Kec.Makale menyelenggarakan Musyawarah Antar Desa (MAD) Perguliran ke 2 Tahun 2013.
  • Program Nasional pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd) sebagai Program Pro Rakyat dan telah terbukti sangat bermanfaat bagi masyarakat terutama masyarakat Perdesaan, berdasarkan penilitian, ataupun survey dari lembaga-lembaga yang berwenang.
  • Sebagai bentuk kepedulian pelaku PNPM - MPd Kab. Tana Toraja terhadap sesama dan sebagai rasa syukur terhadap selesainya penyelenggaraan perayaan Natal Oikumene Keluarga Besar PNPM - MPd Kab. Tana Toraja, hari ini, Selasa, 12 Februari 2013, Pelaku PNPM - MPd Kab. Tana Toraja, melakukan kunjungan sosial ke rumah sakit Kusta Batulelleng di Rantepao.
  • Bupati Tana Toraja, Theofilus Allorerung, SE mengajak kepada seluruh masyarakat Kabupaten Tana Toraja untuk mendukung program PNPM, karena kualitas dari hasil pekerjaan PNPM - Mandiri Perdesaan telah terbukti, dan sebagus dan sebaik apapun program Pemerintah jika masyarakat tidak mendukung dan berpartisipasi aktif dalam program pembangunan tersebut
  • Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd) kabupaten Tana Toraja Region 1, yang meliputi Kecamatan Kurra, Kecamatan Saluputti dan Kecamatan Malimbong Balepe' menggelar Pelatihan Kepala Lembang/Lurah, Sekretaris Lembang/Lurah dan BPL/LKMK di Aula Hotel Sanggalla'
  • Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Toraja mengakui data penerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) tidak akurat. Pasalnya, data yang digunakan untuk penyaluran BLSM tidak mengakomodir semua warga miskin yang ada di wilayah Tana Toraja. “Banyak warga kurang mampu di Tana Toraja yang tidak masuk daftar penerima BLSM karena  data
  • Ikatan Pelaku Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (IPPMI) menyatakan prihatin dan protes atas kelalaian pemerintah yang telat memberikan gaji selama lebih dua bulan kepada para fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan. IPPMI menyayangkan sikap pemerintah yang seakan membiarkan keterlambatan pemberian gaji tersebut
  • Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri pedesaan (PNPM-MPd) merupakan salah satu bagian integral dalam pembangunan daerah, namun demikian keberhasilan yang dicapai bukan hanya melalui indikator bangunan fisik semata, tetapi lebih dari itu bagaimana menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang mampu memberikan pastisipasinya dalam pembangunan.  Demikian yang diungkapkan Kepada Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa/Lembang...
  • Pelaku Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) ditingkat Kecamatan dan Lembang/Kelurahan se-Kabupaten Tana Toraja mendapat penghargaan si Kompak Award yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja (POKJA) Ruang Belajar Masyarakat (RBM) bekerja sama dengan Satker PNPM – Mandiri Perdesaan Kab. Tana Toraja.  Acara yang bertajuk “Anugerah SIKOMPAK Award 2012” ini, diselenggarakan pada tanggal 27 Maret 2013 bertempat di......
  • tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan masyarakat adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan. kemandirian masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ditandai dengan kemampuan memikirkan, memutuskan serta melakukan sesuatu yang dipandang tepat demi mencapai pemecahan masalah....
  •  sebagai bentuk kepedulian kami terhadap para pelajar yang kurang mampu, maka unit pengelola kegiatan (upk) kecamatan makale utara, kabupaten tana toraja akan memberikan beasiswa bagi pelajar sma dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu se kecamatan makale utara. demikian disampaikan Ketua UPK Makale Selatan, Ruth Y. Padang, pada acara penyerahan bantuan Beasiswa, Sabtu (9/2).
  •  PEMBINAAN kelompok Simpan Pinjam khusus Perempuan (SPP) adalah salah satu kegiatan yang harus dilakukan oleh Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM MPd). Pembinaan dilakukan agar kelompok SPP tak hanya mendapatkan manfaat berupa pinjaman dana saja, tetapi juga terampil dalam mengelola dana pinjaman itu. Dengan demikian, anggota kelompok berpotensi lebih besar dalam memperoleh...
  •  APBN 2015 baru saja ditetapkan melalui paripurna DPR pada 29 September 2014. Bagi kalangan pegiat pemberdayaan desa, penetapan APBN 2015 menjadi jawaban pasti atas perdebatan dan silang sengkarut mengenai besaran alokasi dana desa maupun keberlanjutan PNPM. Dalam APBN 2015, dana desa yang bersumber dari APBN ditetapkan sebesar 9,1 Triliun. Besaran dana desa itu berasal dari realokasi anggaran PNPM di Kementerian Dalam Negeri.......

Jumat, 13 Juli 2012

DAFTAR INDIKATIF LOKASI & ALOKASI BLM PNPM-MP TA.2013


Sehubungan dengan telah terbitnya "DAFTAR INDIKATIF LOKASI & ALOKASI BLM PNPM-MP TA.2013", maka disampaikan kepada seluruh Tim Faskab dan Satker PNPM MPd agar agar segera di fasilitasi bersama dengan Satker Kab, masukkan tanggapan dan klarifikasi dari daerah terhadap daftar indikatif secara tertulis sudah harus diterima Deputi Bidang koordinasi penanggulangan Kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat, Kemenko Kesra cc.Deputi kemiskinan ketenagakerjaan,UKM Bappenas dan Kementrian Lembaga pengelolah Program paling lambat tgl 13 Agustus 2012.

Terimakasih atas Tindaklanjutnya

Download "DAFTAR INDIKATIF LOKASI & ALOKASI BLM PNPM-MP TA.2013"
READ MORE - DAFTAR INDIKATIF LOKASI & ALOKASI BLM PNPM-MP TA.2013

Kamis, 12 Juli 2012

Masalah Kemiskinan di Indonesia


Masalah kemiskinan menjadi pembicaraan banyak pihak karena kemiskinan merupakan permasalahan multisektoral dan menjadi tanggung jawab semua pihak baik dari tingkat kementerian/lembaga sampai pada individu masyarakat. Perhatian serius kepada keluarga miskin terlihat dengan kebijakan-kebijakan aktivitas yang dilakukan oleh Pemerintah yang sasarannya adalah keluarga miskin. Masalah kemiskinan hanya dapat dituntaskan apabila Pemerintah melakukan kebijakan yang serius memihak kepada keluarga miskin. Namun, seringkali kebijakan yang dibuat justru kurang memihak keluarga miskin, akibatnya kebijakan yang ada semakin memperburuk kondisi keluarga miskin bahkan menyebabkan seseorang yang tidak miskin menjadi miskin. Dalam makalah ini, akan dipaparkan kondisi persoalan dasar kemiskinan di Indonesia serta strategi dan kebijakannya.

Kemiskinan merupakan permasalahan harus segera tuntas, karena keadaan kemiskinan membuat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lemah dan tidak bermartabat. Kondisi kemiskinan yang tengah dihadapi oleh Indonesia dapat kita lihat dari pendekatan konsumsi penduduk miskin, kemiskinan multi dimensi, dan kesenjangan antar-wilayah.
Pertama, konsumsi penduduk miskin. Masalah kemiskinan dapat kita amati pada tingkat konsumsi penduduk Indonesia. Pendekatan konsumsi penduduk untuk melihat fenomena kemiskinan dapat dilihat dari dua jenis ukuran, yaitu ukuran konsumsi penduduk miskin dan ukuran daya beli. Ukuran konsumsi penduduk miskin diukur dari garis kemiskinan makanan dan non-makanan.
Kedua, kemiskinan multi dimensi. Fenomena kemiskinan di Indonesia dapat diamati pada berbagai dimensi yang menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk miskin tidak mampu menikmati pelayanan dasar. Pada tahun 2002, sebesar 52,32 persen rumah tangga miskin hidup tanpa akses air minum. Selain itu sekitar 43,86 persen rumah tangga miskin hidup tanpa akses sanitasi. Dimensi berikutnya adalah rumah tangga miskin yang memiliki anak usia 12-15 tahun tetapi tanpa akses pendidikan dasar menengah mencapai 20,76 persen. Kemudian tercatat pula sekitar 27,89 persen rumah tangga miskin yang pernah melahirkan bayi tanpa ditangani tenaga kesehatan terlatih. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa kelompok penduduk miskin sangat jarang menikmati fasilitas air minum, sanitasi, pendidikan, kesehatan. Secara umum Indeks Kemiskinan Manusia Indonesia tahun 2005 diperkirakan sebesar 18,19. Kondisi ini lebih baik dibandingkan lima tahun sebelumnya dengan indeks sebesar 27,75.

Ketiga, kesenjangan antar-wilayah. Masalah kemiskinan dapat kita pahami dari masalah kesenjangan di Indonesia yang sangat kentara ketika kita mengamati indikator Indeks Pembangunan Manusia Indonesia (IPMI). IPMI menggambarkan kondisi kesehatan, pendidikan, gizi, dan air minum yang dialami oleh penduduk Indonesia. Dalam Laporan Pembangunan Manusia Indonesia tahun 2004 yang memuat IPMI di masing-masing kabupaten/kota mencerminkan adanya ketimpangan antar-daerah yang masih tinggi dalam hal kesejahteraan penduduk miskin di masing-masing kabupaten/kota. Dalam laporan tersebut, lima provinsi pertama dengan IPM terendah adalah Nusa Tenggara Barat, Papua, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Gorontalo, Jawa Timur. Sementara itu lima provinsi pertama dengan IPM tertinggi adalah Jakarta, Sulawesi Utara, Yogyakarta, Kalimantan Timur, dan Riau.

Persebaran lokasi penduduk miskin pun hampir merata di seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Pada tahun 2005, Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi terbanyak penduduk miskinnya namun proporsinya kecil, sementara itu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah paling sedikit penduduk miskinnya namun proporsinya besar. Sebaliknya, Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Papua jumlah penduduknya sedikit namun proporsi penduduk miskinnya besar.

Berdasarkan realita tersebut di atas, maka beberapa strategi dan kebijakan untuk mengatasi permasalahan di atas perlu dilakukan antara lain meliputi sebagai berikut.

Pertama, strategi pertumbuhan yang berkualitas (quality growth). Strategi ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin yang ditandai oleh menguatnya daya beli penduduk miskin yang didorong oleh terciptanya penghasilan bagi keluarga miskin dan terkuranginya beban pengeluaran keluarga miskin, serta lebih jauh dapat meningkatkan kemandirian keluarga miskin dalam bentuk meningkatnya nilai simpanan/aset keluarga miskin. Dengan demikian keluarga miskin dapat ikut menikmati pertumbuhan ekonomi yang semakin berkualitas.

Kedua, strategi peningkatan akses pelayanan dasar bagi keluarga miskin (accessibility to basic public service). Strategi ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup penduduk miskin yang ditandai oleh semakin meningkatnya kehadiran keluarga miskin pada fasilitas dan pelayanan kesehatan dasar, pendidikan wajib belajar, konsumsi pangan dan gizi yang bermutu, serta semakin mudahnya menjangkau fasilitas tersebut akibat semakin baiknya prasarana dan sarana dasar.

Ketiga, strategi perlindungan sosial (social protection). Strategi ini bertujuan meningkatkan perlindungan sosial kepada keluarga miskin yang ditandai oleh semakin banyaknya jumlah keluarga miskin yang terjangkau oleh sistem perlindungan sosial sehingga akan semakin meringankan beban hidup keluarga miskin di tengah kondisi yang rawan akan perubahan yang sangat berpengaruh terhadap daya beli penduduk miskin.

Keempat, strategi pemberdayaan masyarakat (community development). Strategi ini bertujuan mendorong penduduk miskin secara kolektif terlibat dalam proses pengambilan keputusan termasuk untuk menanggulangi kemiskinan yang dialami mereka sendiri. Masyarakat miskin bukan sebagai obyek, melainkan subyek. Keberdayaan penduduk miskin ditandai oleh semakin bertambahnya kesempatan kerja yang diciptakan sendiri oleh penduduk miskin secara kolektif, dan pada gilirannya akan dapat memberikan tambahan penghasilan, meringankan beban konsumsi, serta meningkatkan nilai simpanan/aset keluarga miskin. Keberdayaan penduduk miskin juga ditandai oleh semakin meningkatnya kapasitas penduduk miskin secara kolektif dalam mengelola organisasi pembangunan secara mandiri.

Strategi pemberdayan masyarakat diterapkan dalam berbagai program yang menggunakan prinsip dasar bahwa orang miskin apabila mempunyai kesempatan untuk mengambil keputusan secara mandiri maka mereka dapat berbuat yang terbaik bagi diri, keluarga, dan masyarakatnya. Prinsip demikian lebih lanjut dituangkan ke dalam mekanisme pelaksanaan kegiatan yang mengandalkan kekuatan masyarakat miskin setempat dengan fasilitasi dari tenaga pendamping, aparat desa dan kecamatan. Mekanisme demikian efektif menghidupkan proses pemberdayaan masyarakat agar masyarakat mampu merencanakan, membangun, dan memelihara hasil kegiatan secara mandiri.

Sumber: Randy R. Wrihatnolo dan Riant Nugroho D. (2007): Manajemen Pemberdayaan: Sebuah Pengantar dan Panduan untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta
READ MORE - Masalah Kemiskinan di Indonesia

Sabtu, 07 Juli 2012

PNPM Dinilai Tak Efektif Tekan Kemiskinan

JAKARTA: Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri yang dimulai sejak 2007 diduga belum bisa menaggulangi masalah kemiskinan di Indonesia. Gerakan Anti Pemiskinan Rakyat Indonesia (GAPRI) menilai bahwa pelaksaan kurang menyentuh substansi penaggulangan kemiskinan dan pentingnya keterlibatan masyarakat miskin. Sejauh ini, dominasi elit lokal membuat keterlibatan masyarakat miskin menjadi lemah. “Informasi hanya dipegang oleh kelompok tertentu, sehingga masyarakat tidak banyak terlibat langsung. Sejauh ini, penyebab kemiskinan yang diidentifikasi oleh PNPM hanya dijawab dengan 70% pembangunan infrastruktur bagi masyarakat desa,” ujar Juru Bicara GAPRI Abdul Ghofur dalam Seminar Nasional PNPM Mandiri: Antara Retorika dan Realita, di Jakarta, Rabu (4/7/2012). Abdul mengatakan bahwa banyak proyek tidak berdasarkan pada kebutuhan masyarakat miskin, melaikan motif politis dari beberapa elit. Permasalahan kebutuhan lahan bagi petani, katanya, dijawab dengan pembangunan jalan. Pembangunan tersebut, tidak menjawab permasalah. Terlebih lagi, sambungnya, keberadaan PNPM belum mampu meningkatkan kapabilitas masyarakat miskin, karena keterlibatan dalam program lebih banyak dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai pengaruh, sementara masyarakat miskin masih dinilai tidak mampu. Menurutnya, perlu dilakukan audit sosial yang bisa mengevaluasi relevansi sosial terkait sasaran dan dampak sosial terhadap program tersebut. Abdul menegaskan bahwa PNPM ini sebetulnya bukanlah proyek penanggulangan kemiskinan, melainkan sejenis program pembangunan infrastruktur perdesaan dan perkotaan. Pembangunan infrastruktur tersebut, diakui oleh Ketua Pokja Kebijakan Monitoring dan Evaluasi Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Elan Sartiawan merupakan bagian dari program PNPM. Ia menjelaskan bahwa infrastruktur dasar (jalan, jembatan, sistem air bersih, MCK, puskesmas, rumah, dll) merupakan hal yang harus diselesaikan untuk mengatasi masalah ketidakmerataan yang terjadi. (arh) Sumber : http://simpadu-pnpm.bappenas.go.id
READ MORE - PNPM Dinilai Tak Efektif Tekan Kemiskinan

Sabtu, 30 Juni 2012

PNPM MPd KAB. TANA TORAJA GELAR PELATIHAN UPK & PL Se-KAB. TANA TORAJA


Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MPd) merupakan program nasional kemiskinan yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat melalui upaya menciptakan / meningkatkan kapasitas masyarakat terkait upaya peningkatan kualitas hidup, dan tercapainya kesejahteraan serta kemandirian masyarakat
Dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kinerja para pengelola UPK dan PL pada kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan, maka PNPM Kab. Tana Toraja, menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas bagi Pengurus Unit Pengelola Kegiatan (UPK) dan Pendamping Lokal (PL) se Kab. Tana Toraja.

"Peningkatan Kapasitas UPK Menuju Kemandirian Pengelolaan Dana Bergulir yang Efektif", merupakan thema yang diusung oleh Panitia Pelaksana Pelatihan UPK se- kab. Tana Toraja. Sementara itu "Peningkatan Kapasitas PL menuju kemandirian perencanaan dan pelaksanaan PNPM-MPd" adalah thema yang diusung dalam Pelatihan PL.

Pelatihan yang diselenggarakan di Hotel Sangalla' ini, rencananya akan dilaksanakan selama 3 hari, mulai tanggal 28 s/d 30 Juni 2012, dan diikuti oleh seluruh Pengurus UPK dan PL dari 19 Kecamatan se-Kab. Tana Toraja.

Fasilitator Keuangan (FASKEU) Kab. Tana Toraja, Tati' Marthina Batti', SE yang dimintai keterangannya sehubungan dengan pelaksanaan pelatihan ini mengatakan bahwa Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja para pengelola UPK dan PL pada kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan. Karena dengan kinerja yang baik maka program yang dilaksanakan juga akan menghasilkan sesuatu yang maksimal. Dalam pelatihan ini diikuti oleh semua pengurus UPK dan PL PNPM-MPd dari 19 Kecamatan se- Kabupaten Tana Toraja yang semuanya berjumlah ±76 orang peserta.

Pelatihan dimulai pada hari Kamis, 28 Juni 2012 bertempat di Aula Hotel Sangalla' dan secara resmi dibuka oleh Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Lembang (BPML) Kab. Tana Toraja, Ruben R, Randa, SE. Dalam sambutannya disampaikan bahwa Pengurus UPK dan PL PNPM-MPd diharapkan mampu untuk bisa meningkatkan kinerjanya pada setiap kegiatan PNPM-MPd, karena apabila kinerja Pengurusnya meningkat maka tujuan PNPM-MPd akan lebih mudah dicapai. Semoga pelatihan yang dilaksanakan di Hotel Sangalla' ini akan berlangsung dengan baik.

Selama 3 hari peserta akan dibekali beberapa materi pelatihan yang disampaikan oleh para narasumber. Diantaranya: Perencanaan keuangan, Membangun Kemitraan dan Jaringan, Strategi Manajemen, Penanganan Masalah, Charakter Building, dan lain-lain. Selain itu PL juga mendapatkan materi seputar fasilitasi dan ke-Teknik-an.

Pelatihan ini ditutup dengan agenda penyerahan penghargaan bagi peserta terbaik yang berhasil diraih oleh Daud Brony (Ketua UPK Kec. Makale Selatan) sebagai perserta terbaik I dan Ruth Y. Padang (Ketua UPK Kec. Makale Utara) sebagai peserta terbaik II untuk kelas UPK.

Penyerahan hadiah di lakukan oleh Faskab Tana Toraja Ir, M. Amal Alba untuk terbaik I dan Fastekab Tana Toraja, M. Iqbal, ST menyerahkan hadiah bagi peserta terbaik II kelas UPK, sementara FASKEUKAB Tana Toraja, Tati' Marthina Batti', SE menyerahkan hadiah bagi peserta terbaik kelas PL.

Penutupan pelatihan ini dilakukan oleh FASKAB Tana Toraja, Ir, M. Amal Alba dilaksanakan tepat pukul 17.00 WIB pada hari Sabtu 30 Juni 2012.

READ MORE - PNPM MPd KAB. TANA TORAJA GELAR PELATIHAN UPK & PL Se-KAB. TANA TORAJA

Sabtu, 09 Juni 2012

POKJA RBM Tana Toraja Gelar Uji Kapasitas Pelaku

Salah satu langkah yang diambil dalam meningkatkan kapasitas pelaku PNPM se-Kabupaten Tana Toraja, Tim Pokja RBM (Ruang Belajar Masyarakat) bekerja sama dengan Tim Faskab PNPM-Mandiri Perdesaan Kab. Tana Toraja dan Satker PNPM Mandiri perdesaan (PNPM-MPd) Kab. Tana Toraja menggelar Lomba Cerdas Cermat Antar pelaku PNPM se-Kabupaten Tana Toraja, Sabtu (09/6/12), di Hotel Sangalla', Makale.

Lomba Cerdas Cermat dalam rangka meningkatkan kapasitas pelaku ini, diberi nama "GELAR UJI KAPASITAS", dengan mengangkat thema "Bangga membangun Desa Tanpa Korupsi".

Lomba cerdas cermat ini dibagi dalam dua kategori, dimana kategori pertama adalah Lomba Cerdas antara pelaku tingkat kecamatan, dan tingkat kelurahan/Lembang.

Untuk tingkat kecamatan diwakili oleh para pelaku PNPM tingkat kecamatan yaitu, UPK, BPUPK, BKAD, dan PL, sementara untuk tingkat kelurahan/Lembang diwakili oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa /Lembang (KPMD/L), Tim Pengelola Kegiatan (TPK), Kader Teknik (KT), dan pelaku lainnya yang ada di Kelurahan/Lembang.

Faskab Tana Toraja, Suherman, SP dalam sambutannya mengatakan tujuan yang dicapai dari kegiatan ini adalah untuk menguji dan mengetahui serta meningkatkan kapasitas para pelaku PNPM se- Kab. Tana Toraja. Baik pelaku yang ada di Kecamatan, maupun para pelaku yang ada di Lembang/Kelurahan.

Sementara itu Sekretaris Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa/Lembang (BPMD/L), Yurinus Tangkelangi', SH, MH, dalam sambutannya mengatakan Lomba cerdas cermat semacam ini, menurutnya sangat baik dilaksanakan, karena selain untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi peserta, tentunya juga ke depannya diharapkan peserta cerdas cermat juga dapat menyampaikan dan ikut mensosialisasikan PNPM Mandiri Perdesaan di tengah-tengah masyarakat.

Di tempat yang sama, Ketua Pokja RBM Kab. Tana Toraja, Yunus N, Seang Tana, SH dalam sambutannya mengucapkan terimakasih atas dukungan dari semua pihak yang sudah mendukung kegiatan ini, baik itu dari Pengurus Pokja sendiri, Satker PNPM Tana Toraja, Tim Faskab, FK/FT, maupun seluruh peserta cerdas cermat sehingga pelaksanaan lomba cerdas cermat dapat berjalan dengan lancar dan baik.

Lomba untuk masing-masing kategory berlangsung dalam 2 babak, yaitu babak penyisihan dan babak Final.
Untuk kategory Pelaku kecamatan, juara I diraih oleh kecamatan Sangalla Utara, disusul dari kecamatan Makale Utara sebagai juara II, dan Kecamatan Sangalla' Selatan sebagai Juara III.

Untuk kategory Pelaku Kelurahan/Lembang, Juara I diraih oleh Kecamatan Sangalla' Utara, disusul Kec. Malimbong Balepe' di peringkat II dan Kecamatan Sangalla Selatan di Peringkat III.
READ MORE - POKJA RBM Tana Toraja Gelar Uji Kapasitas Pelaku

Kamis, 07 Juni 2012

Rakor bulanan PNPM Kab. Tana Toraja

Pada hari Kamis tanggal 7 Juni 2012, bertempat di Aula Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa/Lembang (BPML), Kab. Tana Toraja , diadakan Rapat Koordinasi Bulanan pertama di Bulan Juni 2012. Rapat Koordinasi tersebut, selain dihadiri oleh semua Fasilitator Kecamatan dan Fasilitator Teknik, juga dihadiri oleh Pengurus UPK se- Kab. Tana Toraja, Camat, dan PjOK Kecamatan.

Rapat Koordinasi Kabupaten Tana Toraja bulan ini secara resmi dibuka oleh Kepala BPMD/L yang baru Ruben R, Randa, SE, yang didampingi oleh Penanggungjawab Operasional Kegiatan Kabupaten (PjOKab) Tana Toraja, Ester Allorerung, SKM, MSi.

Ada beberapa agenda penting yang dibahas dalam rakor kabupaten kali ini. Selain info-info terkini yang disampaikan oleh Tim Faskab, serta progres kegiatan di lapangan, rakor kali ini juga diwarnai oleh acara perkenalan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa/Lembang (BPMD/L) yang baru, Bapak Ruben R, Randa, SE, yang menggantikan Kepala BPMD/L yang lama, Bapak Yulianus Tandisau, SIP, yang telah memasuki masa pensiun. Selain itu, Rakor kabupaten kali ini juga digunakan sebagai ajang pamitan bagi Faskab Tana Toraja, Suherman SP, yang akan segera meninggalkan Tana Toraja menuju lokasi tugas yang baru di Luwu Utara.

Salah satu agenda yang mendapatkan perhatian yang cukup serius dari para peserta Rakor adalah agenda expose resume hasil pemeriksaan Inspektorat Kab. Tana Toraja, yang telah selesai melakukan audit terhadap 3 kecamatan yang dijadikan sampel. yaitu Kecamatan Masanda, Kecamatan Gandangbatu Sillanan, dan Kecamatan Sangalla' Selatan.

Bahan Expose Resume Hasil Audit PNPM Mandiri Perdesaan T. A. 2011 Kab. Tana Toraja.

Halaman 1

Halaman 2

Halaman 3

Rakor bulan Juni ini rencananya akan diselenggarakan selama 2 hari, dimana pada hari ke dua (8/6) akan dilaksanakan di Hotel Sangalla'.
READ MORE - Rakor bulanan PNPM Kab. Tana Toraja

Selasa, 29 Mei 2012

MDPJ salah satu bentuk Transparansi dalam PNPM

Salah satu prinsip yang dianut dalam pelaksanaan kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) adalah transparansi atau keterbukaan. Olehnya itu Tim Pengelola Kegiatan (TPK) dalam Setiap kegiatan yang di danai dari dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) senantiasa dituntut untuk menjunjung tinggi prinsip transparansi tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut, hari ini, Rabu, 30 Mei 2012, Tim Pengelola kegiatan (TPK)Kelurahan Ariang, Kec. Makale, kabupaten Tana Toraja, menyelenggarakan Musyawarah Desa Pertanggungjawaban 40% untuk kegiatan Pembangunan Sarana Prasarana, berupa Rabat Beton. MDPJ 40% ini berlangsung di Baruga Kantor Kelurahan Ariang dan dihadiri oleh masyarakat, khususnya masyarakat penerima manfaat. Turut hadir dalam MDPJ tersebut PjOK Kec. Makale (Drs. Sattu Sambo) FK Kec. Makale (Duma' Patiallo, SE), FT Kec. Makale (Dewi Marlina Tengkano, ST) Ketua UPK Kec. Makale (Drs. Daniel Kala' Padang). Lurah Ariang, Chandra Sosang, S.Sos dalam sambutannya berharap agar TPK dalam melaksanakan tugasnya selalu berkoordinasi dengan pihak Kecamatan dan kelurahan, agar pekerjaan ini dapat berjalan dengan lancar. Dalam kesempatan yang sama, FT Kec. Makale, Dewi Marlina Tengkano, ST, memberikan kesempatan kepada Tim Pengelola Kegiatan dan para peserta musyawarah agar menyampaikan hambatan-hambatan yang dihadapi dalam penyelesaian pekerjaan yang sumber dananya berasal dari BLM PNPM-MPd ini. Permasalahan yang sempat mengemuka dalam MDPJ ini adalah masalah jangka waktu jalan yang sudah dirabat tersebut dapat dilalui kendaraan. Menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari peserta musyawarah tersebut, FT Kec. Makale, Dewi Marlina Tengkano, ST, menyampaikan jawabannya bahwa secara teknis jalan yang di rabat baru dapat dilalui kendaraan roda 4 jika telah berumur lebih dari 28 hari. Salah satu keputusan yang berhasil diambil dalam musyawarah Desa Pertanggungjawaban 40% ini adalah, Kesepakatan untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan yang tersisa, seperti pekerjaan pembangunan duiker, talud, dan pemasangan gorong-gorong.
READ MORE - MDPJ salah satu bentuk Transparansi dalam PNPM

Kamis, 24 Mei 2012

Mengintip Kelahiran PNPM Pusaka: The Next Generation of PNPM Mandiri

Pelaksanaan PNPM Mandiri selama sejak tahun 2007, di nilai cukup positif dalam menanggulangi kemiskinan yang ada di Indonesia. Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang mengedepankan prinsip-prinsip musyawarah mufakat, PNPM mampu memberikan ruang pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang demokratis. PNPM sendiri di rencanakan akan selesai pada tahun 2014. PNPM Sendiri seperti yang kita terdiri dari berbagai macam program seperti PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Perkotaan / Program Pegembangan Kecamatan Perkotaan (P2KP), PNPM Generasi, PNPM Paska Bencana, PNPM Paska Krisis, PNPM Integrasi, PNPM PISEW, PNPM Pariwisata dan lain sebagainya. Timbul pertannyaan dari kita, lantas akan ada program apa sebagai pengembang dan penerus dari PNPM? Pihak depdagri menyatakan bahwa akan ada kelanjutan dari program PNPM yang system dan mekanismenya tidak terlampau jauh berbeda dengan PNPM. Meski belum di putuskan apakah masih menggunakan nama PNPM kembali ataukah ganti baju dengan nama yang lain. Jawaban atas pertanyaan itu sedikit terungkap, saat saya membaca status Facebook dari Deputi Kemenkokesra, Sujana Royat yang menyatakan bahwa akan lahir generasi baru dari PNPM yaitu PNPM Pusaka. Menurut beliau, PNPM Pusaka diharapkan dapat mendorong kelompok-kelompok masyarakat peminat kebudayaan lokal untuk mencintai dan melestarikan budaya, adat istiadat, kuliner, seni dan tata krama budaya lokal dan menerapkan dalam kehidupannya menjadi lebih berbudaya (culturally vibrant), dan akhirnya bila ini bisa dilakukan di semua tempat maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat kembali, bukan pengejar materi dan kekuasan dan sering di adu domba dan dimanfaatkan oleh berbagai kelompok kepentingan. PNPM Pusaka rencananya akan di luncurkan serempak di berbagai kota bulan Agustus setelah Hari Peringatan Proklamasi Kemerdakaan Indonesia untuk menjadi gerakan nasional untuk mencintai budaya lokal. Aspek yang di sentuh dalam PNPM Pusaka adalah dimensi ketiga dari kemiskinan yaitu kemiskinan budaya, akhlak dan tata krama. Setelah sebelumnya dimensi kemiskinan harta dan kemiskinan ilmu, yang telah di sentuh melalui PNPM Mandiri. Mungkin akan saya kutip status Facebook Sujana Royat yang di tulis pada awal bulan Mei 2012. “Setelah bangsa ini terpecah belah oleh partai politik, pemekaran wilayah dan radikalisme di bidang agama dan etnis. Maka sudah waktunya bangsa ini direkatkan lagi dan di persatukan lagi melalui budaya. Kebudayaan adalah perekat bangsa. Semua kelompok masyarakat harus kembali ke akar tradisi dan budaya lokalnya. Kebudayaan nasional adalah puncak puncak kebudayaan lokal. Masyarakat harus memelihara budaya lokal dan melestarikannya. Ini intinya PNPM Pusaka, siapa saja yang mencintai budaya, seni dan potensi kekayaan alam saujana / landscape bisa bergabung dalam upaya ini. Rekatkan bangsa melalui budaya!” Dari komentar singkat kami, sebagai praktisi pemberdayaan, saya sungguh merasa mempunyai harapan yang tinggi terhadap program PNPM Pusaka ini. Saya hanya membayangkan kira-kira akan seperti apa mekanisme, prosedur, juknis dan terapan pelaksanaan di masyarakat. Dan reksi apa yang timbul di masyarakat. Apakah senang, antusias, ataukah acuh saja. Sudah menjadi rahasia umum di masyarakat desa atau di pinggirian urban (bagi pemanfaat dana P2KP) apalagi untuk PNPM Mandiri Perdesaan, banyak sekali anggapan yang menilai bahwa PNPM adalah “banyak uangnya”. Masyarakat ingin berpartisipasi dalam PNPM jelas di sana menjanjikan “gula-gula” proyek yang cukup besar. Dengan kondisi pembangunan infrastruktur perdesaan yang belum merata, menjadikan PNPM di perebutkan dengan sangat gaduh dan seringkali melalui cara-cara intimidatif. Proses Musyawarah Antar Desa (MAD) sebagai forum tertinggi di tingkat kecamatan di pakai bukan untuk mencari solusi atas permasalahan-permasalahan mereka se-kecamatan, namun di persempit dengan nafsu mendapatkan dana proyek bagi desa mereka masing-masing. Dan memang tidak bisa di salahkan ketika masyarakat berkehendak demikian. Gelombang arus bawah dari masyarakat, menjadikan nilai-nilai dan prinsip program menjadi mengambang dan hanya di jadikan emblem administratif. Di balik kesuksesan program, sebaliknya terdapat pula fenomena faktual yang berkembang di masyarakat. Kita ambil contoh. Bahwa tidak dapat kita pungkiri bahwa kualitas proses dan partisipatif masyarakat cenderung mengalami grafik penurunan. Masyarakat yang menghadiri musyawarah baik di desa dan kecamatan telah merasakan kecenderungan bosan dengan banyaknya rapat yang ada di PNPM. Ujungnya adalah ketika mereka menghadiri Musyawarah Antar Desa (MAD) yang hakikatnya adalah berjuang bagi desa mereka sendiri untuk mengakomodir hak, usulan dan merupakan bentuk partisipasi demokrasi, rata-rata mereka menghendaki adanya transport yang di bebankan dari pihak desa. Kalau tidak ada transportnya mereka tidak mau berangkat. Contoh lain adalah proses pemilihan pelaku PNPM seperti Unit Pengelola Keuangan (UPK) banyak di warnai dengan nuansa politis yang kental. Yang membuat para calon UPK melakukan manuver-manuver yang terkadang tidak sehat dan menodai prinsip-prinsip PNPM itu sendiri. Kita ini sudah menjadi manusia Indonesia yang berjuang bukan untuk kepentingan bersama, tapi sudah terkotak-kotak hanya untuk pribadi, golongan, institusi, lembaga. Musuh kita sebenarnya adalah uang, yang kita perebutkan dengan berbagai cara tanpa peduli saudara, kerabat atau apapun. Kenikmatan bergotong-royong telah di gantikan dengan kenikmatan materiil. Adapun data-data kesuksesan yang tertampil dalam lembar-lembar laporan kita adalah data administratif yang tidak cukup dan bahkan tidak mampu menggambarkan wajah program pemberdayaan ini secara komprehensiif. Wajah itu terlihat parsial tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Namun dengan adanya rencana kelahiran PNPM Pusaka, sedikit banyak memberikan harapan yang baru. Ketika manusia tidak mengenal budaya, tidak mengapresiasi seni, tidak menyukai keindahan sesungguhnya dia telah menolak hakikat sejati dirinya. Manusia dengan perwujudan akal dan budi, mampu melahirkan ragam kebudayaan yang membuat manusia itu merasa manusia. Yang terjadi sekarang adalah manusia tidak melihat dia sendiri menjadi manusia, namun lebih melihat apakah dia Konsultan, Bupati, Direktur, tukang ojek, petani atau apapun saja. Manusia menjauh dari sifat sejati manusia. Ketika manusia sudah tidak berlaku sebagai manusia maka apa yang disampaikan Sujana Royat menjadi nyata “ terpecah belah oleh partai politik, pemekaran wilayah dan radikalisme di bidang agama dan etnis. Dan tantangan tersebut mau tidak mau harus di hadapi oleh PNPM Pusaka. Meskipun saya masih meraba-meraba bentuknya akan seperti apa. Karena bagaimana menilai budaya. Bagaimana menghitung budaya secara kuantitatif? Namun, setidaknya akan ada hembusan angin segar dengan hadirnya PNPM Pusaka. Meskipun tantangan ke depan masih membayang, namun setidaknya patut di apresiasi dan di dukung dengan sepenuh hati. Sumber : http://www.http://sosbud.kompasiana.com
READ MORE - Mengintip Kelahiran PNPM Pusaka: The Next Generation of PNPM Mandiri